Gizi sebagai Kebutuhan Dasar Manusia

Dahulu manusia makan dan minum karena tubuh merasakan lapar dan haus, sehingga dalam mengkonsumsi makanan hanya bertujuan untuk mencapai rasa kenyang dan menghilangkan rasa haus. Pekembangan ilmu pengetahuan dan munculnya berbagai macam penyakit yang disebabkan antara lain karena kurang zat gizi, membuat manusia tahu bahwa di dalam makanan terkandung zat zat yang sangat diperlukan oleh tubuh agar dapat berfungsi secara normal dan terhindar dari penyakit. Baca lebih lanjut

BALITA GIZI BURUK TIDAK SELALU KARENA KURANG MAKAN

Jika kita mendengar kata balita gizi buruk mungkin yang terbayang dalam benak kita adalah anak yang kurus sekali yang tubuhnya tinggal tulang belulang yang terbungkus dengan kulit. Memang tidak salah karena anak seperti dalam bayangan itu memang jelas berstatus gizi buruk, namun persepsi ini kurang tepat karena anak balita yang berstatus gizi buruk tidak hanya yang kurus-kurus saja tapi juga balita yang tidak kurus namun bertubuh pendek.
Ada tiga indikator yang digunakan dalam menentukan status gizi balita.

Indikator pertama sebagai sarana deteksi dini di Posyandu adalah Berat Badan menurut Umur seperti yang ada pada KMS dalam buku KIA. Dalam indikator ini ada empat kategori yaitu status gizi lebih, baik, kurang dan buruk. Balita yang masuk dalam status gizi buruk berarti berat badannya tidak sesuai (sangat kurang) dengan usianya. Indikator yang kedua adalah Berat Badan menurut Tinggi badan yang dikelompokkan dalam empat kriteria yaitu kurus sekali/sangat kurus, kurus, normal dan gemuk. Indikator ini digunakan untuk menyaring balita hasil saringan indikator pertama, balita yang harus segera ditangani, para praktisi gizi menyebut balita yang sangat kurus adalah balita gizi buruk yang sebenarnya. Sedangkan indikator yang ketiga adalah Tinggi Badan menurut Umur yang terbagi dalam empat kriteria yaitu pendek sekali, pendek, normal dan tinggi. Gizi buruk yang termasuk pada indikator ketiga ini adalah untuk mengetahui masalah gizi kronis.

Baca lebih lanjut