Harapan Baru Penderita Diabetes

Hampir semua orang tahu  penyakit ini, orang sering menyebutnya penyakit kencing manis atau gula. Penyakit ini semakin akrab dengan kita karena penderitanya semakin bertambah dari tahun ke tahun, bahkan setiap orang biasanya mempunyai kerabat atau teman yang mengidap penyakit ini.

Pada awalnya, pasien sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mengidap diabetes melitus, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian. Namun, harus dicurigai adanya DM jika seseorang mengalami keluhan klasik DM berupa: Baca lebih lanjut

Forum Laktasi Kulon Progo

“Sayang Bayi Beri ASI” itulah motto dari Forum Laktasi Kabupaten Kulon Progo. Forum yang belum berumur setahun ini bertekad ingin menjadi pusat informasi, pelayanan dan pengembangan program laktasi menuju Kulon Progo peduli ASI.
Untuk mencapai tekad tersebut, menurut dr Rina Nuryati yang merupakan ketua dari Forum Laktasi Kulon Progo, Forum akan memberikan informasi laktasi baik secara langsung kepada masyarakat atau via internet seperti facebook atau website Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo. Selain itu, 25 konselor ASI yang bekerja di Dinkes atau di pukesmas akan diberdayakan dan dioptimalkan perannya dalam mendukung , mengembangkan dan bekerjasama dengan pihak lain untuk keberhasilan ASI Eksklusif di Kabupaten Kulon Progo.

Gizi sebagai Kebutuhan Dasar Manusia

Dahulu manusia makan dan minum karena tubuh merasakan lapar dan haus, sehingga dalam mengkonsumsi makanan hanya bertujuan untuk mencapai rasa kenyang dan menghilangkan rasa haus. Pekembangan ilmu pengetahuan dan munculnya berbagai macam penyakit yang disebabkan antara lain karena kurang zat gizi, membuat manusia tahu bahwa di dalam makanan terkandung zat zat yang sangat diperlukan oleh tubuh agar dapat berfungsi secara normal dan terhindar dari penyakit. Baca lebih lanjut

Madu tidak baik untuk kesehatan Bayi

Madu sering kali diberikan pada bayi saat perkenalan dengan makanan selain ASI atau PASI oleh sebagian masyarakat. Bahkan ada yang memberikan madu pada bayi yang baru saja lahir. Biasanya madu tersebut dioleskan pada bibir bagi bayi yang baru lahir, atau disuapkan langsung dengan sendok, ada pula yang dicampurkan dengan bubur bagi bayi yang sudah diberikan makanan tambahan. Mereka percaya madu ‘baik dan aman’ bagi bayi mereka. 

Namun ternyata anggapan ‘baik dan aman’ tersebut ternyata tidak benar, penelitian modern menemukan, madu asli ternyata mengandung bakteri clostridium botulinum yang dibawa oleh kaki kaki tawon. Dalam keadaan tidak higienis, spora tersebut menjadi racun yang jika dikonsumsi oleh bayi berumur < 12 bulan akan menyebabkan penyakit botulism. Penyakit yang yang masih jarang terjadi dan terindikasikan. Penyakit tersebut dapat menyebabkan bayi menjadi konstipasi, sulit makan, cengeng, terhambatnya pertumbuhan dan lain-lain bahkan kematian (sedikit kasus). 

Clostridium botulinum adalah nama jenis bakteri yang umumnya ditemukan di tanah dengan kondisi yang kandungan oksigennya sangat rendah. Dalam bentuk spora, bakteri tersebut hanya dapat bertahan hidup hingga suatu saat bakteri tersebut dapat berkembang biak pada kondisi tertentu yang menghasilkan racun Botulinum. Terdapat 7 jenis racun botulism di kategorikan dari A – G dan hanya jenis A, B, E dan F yang berefek terhadap kesehatan manusia. Penemu bakteri ini adalah Robert Koch (Fisikawan Peraih Nobel 1905).  

Di California antara tahun 1976 – 1983, dilaporkan oleh CDC, terdapat 395 kasus pasien yang berumur 2 s/d 38 minggu, 11 diantaranya meninggal. Jenis racun botulism/botulinal yang diidentifikasi adalah jenis A (50%), B(49%) & F. Dari data selama 2001-2002 di kota New York kasus yang terjadi adalah 2-68 kasus per 100.000 kelahiran bayi. Kasus tertinggi tertinggi terjadi pada bayi < 6 bulan dimana kasus paling fatal < 1%. Di Amerika dari 110 yang dilaporkan setiap tahunnya, 25% diantaranya disebabkan dari makanan.

Kesimpulan yang dapat diambil dan informasikan adalah sangat tidak disarankan untuk memberikan bayi di bawah <1 tahun dengan madu maupun makanan yang didalamnya mengandung madu. Bahkan industri makanan bayi untuk umur < 1 tahun pun tidak diperkenankan untuk memproduksi makanan bayi yang mengandung madu. 

Data kasus penyakit ini di Indonesia, belum ada. Informasi ini dirasakan sangat perlu untuk kita berbagi pengalaman karena begitu banyaknya iklan madu yang “menjelaskan” sekaligus “menyesatkan ” bahwa madu baik untuk balita adalah sangat mengkhawatirkan.

 

Sumber:  

Adhi Rachdian dalam Madu tidak baik untuk kesehatan Bayi (kurang dari 1 tahun)

AWAS KERACUNAN IKAN TONGKOL

Ikan merupakan salah satu bahan pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat,      untuk mengkonsumsi ikan perlu pengetahuan masyarakat bahwa ikan merupakan suatu bahan pangan yang cepat mengalami proses pembusukan (perishable food), hal ini disebabkan karena beberapa hal seperti kandungan protein yang tinggi dan kondisi lingkungan yang sangat sesuai untuk pertumbuhan mikrobia pembusuk. Adapun kondisi lingkungan tersebut seperti suhu, pH, oksigen, waktu simpan, dan kondisi kebersihan sarana prasarana.

Keracunan dapat timbul setelah beberapa menit sampai beberapa jam setelah makan ikan tongkol. Gejalanya antara lain adalah rasa gatal atau terbakar di sekitar mulut, bibir bengkak, wajah kemerahan, berkeringat, mual, muntah, sakit kepala, jantung berdebar, pusing, atau bentol-bentol merah di badan. Gejala ini biasanya membaik sendiri dalam beberapa jam, atau bahkan beberapa hari. Pada kasus yang berat kadang-kadang diperlukan pemberian obat antihistamin atau obat dan tindakan medis lainnya.

Ikan tongkol yang tergolong famili scombroidae, jika dibiarkan pada suhu kamar, maka segera akan terjadi proses penurunan mutu, menjadi tidak segar lagi dan jika ikan tongkol ini dikonsumsi akan menimbulkan keracunan. Keracunan ini disebabkan oleh kontaminasi bakteri pathogen seperti Escherichia coli, Salmonella, Vibrio cholerae, Enterobacteriacea dan lain-lain. Salah satu jenis keracunan yang sering terjadi pada ikan tongkol adalah keracunan histamin (scombroid fish poisoning) karena ikan jenis ini mengandung asam amino histidin yang dikontaminasi oleh bakteri dengan mengeluarkan enzim histidin dekarboksilase sehingga menghasilkan histamin. Bakteri  ini banyak terdapat pada anggota tubuh manusia yang tidak higienis, kotoran/tinja, isi perut ikan serta peralatan yang tidak bersih.

Kasus-kasus keracunan akibat mengkonsumsi ikan masih sering terjadi. Untuk itu upaya penanganan ikan tongkol selama penyimpanan dengan penerapan teknologi tepat guna berupa penyiangan  isi perut dan insang serta penyimpanan pada suhu rendah perlu dilakukan.

Peningkatan keamanan ikan tongkol (Auxis tharzard, Lac) dengan penerapan  teknologi tepat guna ditinjau dari mutu kimiawi, mikrobiologis dan organoleptik yang terbaik diperoleh pada perlakuan penyiangan dan suhu penyimpanan 0oC, kemudian berturut-turut diikuti oleh tanpa penyiangan dan suhu penyimpanan 0oC, penyiangan dan suhu penyimpanan 15oC, tanpa penyiangan dan suhu penyimpanan 15oC, penyiangan dan suhu penyimpanan 30oC serta tanpa penyiangan dan suhu penyimpanan 30oC.

        Temuan baru pada penelitian ini adalah penyiangan dan tanpa penyiangan dengan suhu penyimpanan 0oC mampu memperpanjang waktu simpan dan aman untuk dikonsumsi sampai hari ke 10, dibandingkan dengan penyiangan dan suhu penyimpanan 15oC sampai di bawah 6 hari, berikutnya tanpa penyiangan dan suhu penyimpanan 15oC di bawah 4 hari, kemudian penyiangan dan tanpa penyiangan dengan suhu penyimpanan 30oC hanya aman sampai di bawah 1 hari.

        Hubungan sangat kuat dan signifikan antara kadar histamin dengan kadar TVB; kadar TMA; jumlah bakteri; jumlah bakteri Coliform; kenampakan; bau; tekstur, sedangkan kadar histamin dengan waktu (hari) memikili hubungan agak lemah, namun masih signifikan.

 

Sumber Pustaka

I G. Suranaya Pandit, N. T. Suryadhi, I. B. dan Arka, N. Adiputra  dalam Penelitiannya yang berjudul Pengaruh Penyiangan dan Suhu Penyimpanan terhadap Mutu, Kimiawi, Mikrobiologis dan Organoleptik Ikan Tongkol (Auxis tharzard,Lac)

Waspadai Produk Cina Mengandung Melamin

Departemen Kesehatan Cina menyatakan ribuan kasus batu ginjal dan beberap kematian pada bayi terjadi menyebar di seluruh Cina disebabkan karena susu formula bayi yang terkontaminasi melamin yang diproduksi oleh Sanlu CO.Ltd, dan lain-lain, Sedangkan menurut informasi dari Administration of Quality Supaervision, Inspection and Quarantine (AQSIQ) Cina, ternyata melamin ditemukan juga dalam susu cair yang diproduksi Mengnlu Dairy Group Co., Yill Industrial Co. Dan Sahanghai-based Brigth Dairy. Baca lebih lanjut