Mengurangi Bahaya Residu Pestisida dalam Makanan

—Residu Pestisida adalah zat tertentu yang terkandung dalam hasil pertanian, bahan pangan, atau pakan hewan baik sebagai akibat langsung maupun tak langsung dari penggunaan pestisida
Dampak Residu Pestisida Pada Kesehatan
—Keracunan: Tanda orang yang keracunan pestisida dalam jumlah cukup tinggi bermacam-macam, tergantung jenis pestisida yang digunakan. Namun, pada umumnya berupa sakit kepala, pusing, mual sampai muntah, gemetar, kejang, penglihatan kabur, berair liur banyak, bahkan ada yang sampai kehilangan kesadaran. Baca lebih lanjut
Iklan

KERACUNAN JAMUR

Hati-hati dalam mengkonsumsi jamur liar yang mungkin anda temukan di sekitar rumah atau kebun, karena belum tentu jamur yang aman untuk dikonsumsi. Jika tidak hati-hati bisa bisa kita keracuna. Kejadian keracunan jamur biasanya terjadi karena mengkonsumsi jamu liar yang ditemukan, bukan jamur yang dibeli.

Penyebab Keracunan

Mungkin senyawa mirip resin dalam beberapa jenis jamur

Masa Inkubasi

30 menit sampai 2 jam

Gejala/Tanda-tanda

Mual, muntah, diare, kejang perut

Pangan yang biasa tercemar

Banyak jenis jamur liar

Spesimen

Muntahan, sisa pangan

Penyebab KLB

Memakan jenis jamur yang tidak diketahui, mengkonsumsi jamur beracun yang dikira dapat dimakan.

Syarat Makanan: Aman, Bergizi, Berimbang, Beragam dan Halal (AB3H)

Apakah Anda menetapkan syarat tertentu terhadap makanan yang Anda makan? Mungkin ada sebagian orang hanya menuruti selera lidah alias enak aja tanpa pusing-pusing memikirkan lainnya.

Menurut teori yang ada pada ilmu gizi dan pertanian, makanan yang baik jika memenuhi beberapa persyaratan yaitu aman, bergizi, berimbang, beragam dan kedepannya mau ditambah satu syarat lagi yaitu halal.

Keamanan adalah syarat mutlak makanan, walaupun mungkin kurang bergizi tapi kalau sudah aman minimal makanan tidak membuat konsumennya sakit atau keracunan. Jadi jika ada dilema dalam memperlakukan makanan misalnya merebus untuk mengurangi residu pestisida tak masalah walaupun zat gizi tertentu ikut hilang dalam proses perebusan itu.

Yang kedua adalah bergizi, gizi terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Makanan yang baik yang bergizi tinggi, namun juga harus disesuaikan dengan konsumennya.

Selain bergizi juga harus berimbang, artinya proporsi zat gizi yang dikonsumsi sesuai dengan yang kita butuhkan. Jika tidak seimbang maka akan berakibat timbulnya masalah gizi  baik itu kurang gizi atau kelebihan gizi.

Beragam artinya bahan makanan yang digunakan bervariasi tidak monoton itu-itu saja.  Selain menghindari kebosanan juga untuk mencukupi kebutuhan nutrisi dibandingkan hanya makan beberapa jenis saja.

Persyaratan halal masih dalam wacana ditambahkan mengingat mayoritas agama di Indonesia adalah Islam. Halal itu bisa bersifat halal zatnya dan halal cara mendapatkannya.

TIPS MENYIMPAN DAGING

Hari Raya Idul Adha sebentar lagi tiba. Pada hari tersebut biasanya kita kebanjiran stock daging kurban, sampai sampai bingung mau dibikin masakan apa. Makan daging terus-terusan selain bosan juga tak baik bagi kesehatan. Menghindari kebosanan biasanya disimpan mentah atau olahan agar bisa dikonsumsi di lain hari. Masalahnya sekarang, jika anda tidak tahu cara menyimpan daging dengan baik, daging yang anda simpan dapat rusak dan berisiko menimbulkan keracunan. Berikut ini adalah cara-cara menyimpan daging dengan baik.

Perlu anda ketahui daging segar tahan disimpan di chiller atau penyimpanan dingin hanya 2-3 hari pada suhu dibawah 4oC dan bila ingin menyimpannya lebih lama, masukkan di dalam freezer atau penyimpanan beku. Di freezer pada suhu -18oC sampai -23,5oC, daging bisa bertahan hingga 3 bulan. Ada beberapa syarat agar daging tetap segar dan aman diolah setelah disimpan di freezer:

  • Daging harus dalam kondisi segar berwarna merah.
  • Jangan menyimpan daging dalam ukuran besar, jadi sebaiknya potong-potong daging sebelum disimpan, ini akan menyebabkan pembekuan lebih merata dan memudahkan anda dalam mengambil daging.
  • Bungkus daging dengan kemasan plastik tebal, dikemas rapat agar daging tidak mengalami dehidrasi. Daging yang dehidrasi akan mengalami perubahan warna menjadi coklat kehitaman, akan terjadi penyimpangan rasa bila diolah, dan alot.
  • Bila hendak digunakan, cairkan (thawing) daging. Ada 3 cara pencairan, yaitu di pindahkan ke chiller selama 12-24 jam, dibiarkan dalam temperatur ruang, dan letakkan di wastafel sambil dikucuri air keran dalam keadaan masih terbungkus plastik.
  • Daging yang sudah di-thawing tidak boleh dikembalikan ke freezer karena bakteri yang semula tertidur lelap bangun kembali dan mulai merusak daging. Sebaiknya daging segera diolah habis, kalaupun mau disimpan masukkan ke chiller, itu pun hanya bertahan 2 hari saja.

Sumber: Pengetahuan Bahan Pangan Hewani oleh Direktorat Surveilen dan Penyuluhan Keamanan Pangan Badan POM

Madu tidak baik untuk kesehatan Bayi

Madu sering kali diberikan pada bayi saat perkenalan dengan makanan selain ASI atau PASI oleh sebagian masyarakat. Bahkan ada yang memberikan madu pada bayi yang baru saja lahir. Biasanya madu tersebut dioleskan pada bibir bagi bayi yang baru lahir, atau disuapkan langsung dengan sendok, ada pula yang dicampurkan dengan bubur bagi bayi yang sudah diberikan makanan tambahan. Mereka percaya madu ‘baik dan aman’ bagi bayi mereka. 

Namun ternyata anggapan ‘baik dan aman’ tersebut ternyata tidak benar, penelitian modern menemukan, madu asli ternyata mengandung bakteri clostridium botulinum yang dibawa oleh kaki kaki tawon. Dalam keadaan tidak higienis, spora tersebut menjadi racun yang jika dikonsumsi oleh bayi berumur < 12 bulan akan menyebabkan penyakit botulism. Penyakit yang yang masih jarang terjadi dan terindikasikan. Penyakit tersebut dapat menyebabkan bayi menjadi konstipasi, sulit makan, cengeng, terhambatnya pertumbuhan dan lain-lain bahkan kematian (sedikit kasus). 

Clostridium botulinum adalah nama jenis bakteri yang umumnya ditemukan di tanah dengan kondisi yang kandungan oksigennya sangat rendah. Dalam bentuk spora, bakteri tersebut hanya dapat bertahan hidup hingga suatu saat bakteri tersebut dapat berkembang biak pada kondisi tertentu yang menghasilkan racun Botulinum. Terdapat 7 jenis racun botulism di kategorikan dari A – G dan hanya jenis A, B, E dan F yang berefek terhadap kesehatan manusia. Penemu bakteri ini adalah Robert Koch (Fisikawan Peraih Nobel 1905).  

Di California antara tahun 1976 – 1983, dilaporkan oleh CDC, terdapat 395 kasus pasien yang berumur 2 s/d 38 minggu, 11 diantaranya meninggal. Jenis racun botulism/botulinal yang diidentifikasi adalah jenis A (50%), B(49%) & F. Dari data selama 2001-2002 di kota New York kasus yang terjadi adalah 2-68 kasus per 100.000 kelahiran bayi. Kasus tertinggi tertinggi terjadi pada bayi < 6 bulan dimana kasus paling fatal < 1%. Di Amerika dari 110 yang dilaporkan setiap tahunnya, 25% diantaranya disebabkan dari makanan.

Kesimpulan yang dapat diambil dan informasikan adalah sangat tidak disarankan untuk memberikan bayi di bawah <1 tahun dengan madu maupun makanan yang didalamnya mengandung madu. Bahkan industri makanan bayi untuk umur < 1 tahun pun tidak diperkenankan untuk memproduksi makanan bayi yang mengandung madu. 

Data kasus penyakit ini di Indonesia, belum ada. Informasi ini dirasakan sangat perlu untuk kita berbagi pengalaman karena begitu banyaknya iklan madu yang “menjelaskan” sekaligus “menyesatkan ” bahwa madu baik untuk balita adalah sangat mengkhawatirkan.

 

Sumber:  

Adhi Rachdian dalam Madu tidak baik untuk kesehatan Bayi (kurang dari 1 tahun)

AWAS KERACUNAN IKAN TONGKOL

Ikan merupakan salah satu bahan pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat,      untuk mengkonsumsi ikan perlu pengetahuan masyarakat bahwa ikan merupakan suatu bahan pangan yang cepat mengalami proses pembusukan (perishable food), hal ini disebabkan karena beberapa hal seperti kandungan protein yang tinggi dan kondisi lingkungan yang sangat sesuai untuk pertumbuhan mikrobia pembusuk. Adapun kondisi lingkungan tersebut seperti suhu, pH, oksigen, waktu simpan, dan kondisi kebersihan sarana prasarana.

Keracunan dapat timbul setelah beberapa menit sampai beberapa jam setelah makan ikan tongkol. Gejalanya antara lain adalah rasa gatal atau terbakar di sekitar mulut, bibir bengkak, wajah kemerahan, berkeringat, mual, muntah, sakit kepala, jantung berdebar, pusing, atau bentol-bentol merah di badan. Gejala ini biasanya membaik sendiri dalam beberapa jam, atau bahkan beberapa hari. Pada kasus yang berat kadang-kadang diperlukan pemberian obat antihistamin atau obat dan tindakan medis lainnya.

Ikan tongkol yang tergolong famili scombroidae, jika dibiarkan pada suhu kamar, maka segera akan terjadi proses penurunan mutu, menjadi tidak segar lagi dan jika ikan tongkol ini dikonsumsi akan menimbulkan keracunan. Keracunan ini disebabkan oleh kontaminasi bakteri pathogen seperti Escherichia coli, Salmonella, Vibrio cholerae, Enterobacteriacea dan lain-lain. Salah satu jenis keracunan yang sering terjadi pada ikan tongkol adalah keracunan histamin (scombroid fish poisoning) karena ikan jenis ini mengandung asam amino histidin yang dikontaminasi oleh bakteri dengan mengeluarkan enzim histidin dekarboksilase sehingga menghasilkan histamin. Bakteri  ini banyak terdapat pada anggota tubuh manusia yang tidak higienis, kotoran/tinja, isi perut ikan serta peralatan yang tidak bersih.

Kasus-kasus keracunan akibat mengkonsumsi ikan masih sering terjadi. Untuk itu upaya penanganan ikan tongkol selama penyimpanan dengan penerapan teknologi tepat guna berupa penyiangan  isi perut dan insang serta penyimpanan pada suhu rendah perlu dilakukan.

Peningkatan keamanan ikan tongkol (Auxis tharzard, Lac) dengan penerapan  teknologi tepat guna ditinjau dari mutu kimiawi, mikrobiologis dan organoleptik yang terbaik diperoleh pada perlakuan penyiangan dan suhu penyimpanan 0oC, kemudian berturut-turut diikuti oleh tanpa penyiangan dan suhu penyimpanan 0oC, penyiangan dan suhu penyimpanan 15oC, tanpa penyiangan dan suhu penyimpanan 15oC, penyiangan dan suhu penyimpanan 30oC serta tanpa penyiangan dan suhu penyimpanan 30oC.

        Temuan baru pada penelitian ini adalah penyiangan dan tanpa penyiangan dengan suhu penyimpanan 0oC mampu memperpanjang waktu simpan dan aman untuk dikonsumsi sampai hari ke 10, dibandingkan dengan penyiangan dan suhu penyimpanan 15oC sampai di bawah 6 hari, berikutnya tanpa penyiangan dan suhu penyimpanan 15oC di bawah 4 hari, kemudian penyiangan dan tanpa penyiangan dengan suhu penyimpanan 30oC hanya aman sampai di bawah 1 hari.

        Hubungan sangat kuat dan signifikan antara kadar histamin dengan kadar TVB; kadar TMA; jumlah bakteri; jumlah bakteri Coliform; kenampakan; bau; tekstur, sedangkan kadar histamin dengan waktu (hari) memikili hubungan agak lemah, namun masih signifikan.

 

Sumber Pustaka

I G. Suranaya Pandit, N. T. Suryadhi, I. B. dan Arka, N. Adiputra  dalam Penelitiannya yang berjudul Pengaruh Penyiangan dan Suhu Penyimpanan terhadap Mutu, Kimiawi, Mikrobiologis dan Organoleptik Ikan Tongkol (Auxis tharzard,Lac)

Pewarna Yang Boleh Ditambahkan Dalam Makanan

Dalam Peraturan Menteri ini dicantumkan daftar pewama yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya bagi kesehatan manusia, oleh karena itu dilarang digunakan dalam makanan. Beberapa bahan pewama dalam daftar tersebut (yang diberi tanda bintang pada daftar di bawah ini) telah dilarang penggunaannya sejak tahun 1979 melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI No.235/Menkes/Per/VI/79 tentang Zat Wama yang dilarang digunakan Dalam Makanan. Pewama yang dinyatakan berbahaya bagi kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Auramine*
2. Alkanet
3. Butter Yellow*
4. Black 7984
5. Burn Umber
6. Chrysoidine*
7. Crysoine
8. Citrus Red No. 2*
9. Chocolate Brown FB
10. Fast Red E
11. Fast Yellow AB
12. Guinea Green B*
13. Indanthrene Blue RS
14. Magenta*
15. Metanil Yellow*
16. Oil Orange SS*
17. Oil Orange XO*
18. Oil Orange AB*
19. Oil Yellow OB*
20. Orange G
21. Orange GGN
22. Orange RN
23. Orchid and Orcein
24. Ponceau 3R*
25. Ponceau SX*
26. Ponceau 6R
27. Rhodamin B*
28. Sudan I*
29. Scarlet GN
30. Violet 6B